Senin, 05 April 2010

STUDI KASUS PELAKSANAAN KELOMPOK KERJA GURU (KKG)

Penelitian yang bersifat kualitatif ini mengangkat permasalahan di Gugus Inti I Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kaliwungu, mengenai pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG), Melalui permasalahan tersebut, diharapkan dapat memotret realitas dalam pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG). Berdasarkan informasi dan data yang terkumpul diperoleh simpulan bahwa pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG) di Gugus Inti I Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal, belum dilaksanakan secara efektif.

Hal tersebut terlihat dalam proses pembelajaran KKG yang cenderung pasif dan terpusat pada pemandu. Penyusunan program kegiatan KKG sudah mengungkap dan memenuhi kebutuhan guru, dalam mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga guru-guru mampu menguasai kompetensi personal, profesional, dan kemasyarakatan. Namun demikian pelaksanaan program kegiatan KKG belum dapat terlaksana sesuai dengan harapan, karena ada benturan kepentingan dinas sehingga penyelesaian program kegiatan tidak bisa tepat waktu.Tingkat kedisiplinan guru dalam mengikuti KKG belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Hal ini dapat terlihat dari kedatangan guru dalam kegiatan KKG yang lebih lambat dari jadwal dimulainya pelaksanaan KKG.

Pemandu/tutor dalam KKG di Gugus Inti I Cabang Dinas P dan K Kaliwungu sudah mumpuni dalam penguasaan materi, namun dalam penyajiannya kurang mampu mengelola proses pembelajaran secara efektif. Hal ini ditandai suasana proses pembelajaran yang kurang menarik, dan berpusat pada pemandu. Saran yang diajukan berdasarkan temuan adalah pertama, Sistem Gugus Terpadu. Kedua, perlu dipikirkan terobosan-terobosan dan kerja sama dengan masyarakat, sejalan dengan peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah. Ketiga, melakukan koordinasi dengan lembaga lain yang dapat memberikan sertifikat guna keperluan kenaikan tingkat. Keempat, tutorial bermedia, sekiranya akan lebih efektif dalam pelaksanaan KKG. Kelima, mengoptimalkan peran tutor/pemandu dengan mengevaluasi pelaksanaan KKG.

Kata-kata kunci: KKG, kedisiplinan, totorial, dan interaksi

Pendahuluan

Peningkatan mutu pendidikan khususnya di Sekolah Dasar merupakan fokus perhatian dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini karena Sekolah Dasar merupakan satuan pendidikan formal pertama yang mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar.

Pada kenyataannya pendidikan bukanlah suatu upaya yang sederhana, melainkan suatu kegiatan yang dinamis dan penuh tantangan. Pendidikan akan selalu berubah seiring dengan perubahan zaman, setiap saat pendidikan selalu menjadi fokus perhatian dan bahkan tak jarang menjadi sasaran ketidakpuasan karena pendidikan menyangkut kepentingan semua orang, bukan hanya menyangkut investasi dan kondisi kehidupan di masa yang akan datang, melainkan juga menyangkut kondisi dan suasana kehidupan saat ini. Itulah sebabnya, pendidikan senantiasa memerlukan upaya perbaikkan dan peningkatan sejalan dengan semakin tingginya kebutuhan dan tuntutan kehidupan masyarakat (Fattah, 2000:1).

Oleh karena itu, perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan melalui strategi Sistem Pembinaan Profesional dijabarkan dalam pelaksanaannya di lapangan dengan membentuk gugus sekolah yang terdiri dari satu sekolah sebagai SD Inti dan SD lainnya sebagai SD Imbas, sehingga satu gugus sekolah paling banyak terdiri dari 8 SD. Pada SD Inti dibentuk Pusat Kegiatan Guru (PKG). Di dalam PKG tersebut dilakukan kegiatan berupa Kelompok Kerja Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), dan Kelompok Kerja Penilik Sekolah (KKPS). Kelompok Kerja ini berfungsi sebagai wadah peningkatan mutu profesional guru dan tenaga kependidikan.

Keberadaan Pusat Kegiatan Guru (PKG) dalam Sistem Pembinaan Profesional khususnya di lingkungan Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal, secara organisatoris telah ada dan berfungsi. Namun terkadang, sistem pelaksanaannya kurang efektif sehingga tujuan yang diharapkan tidak dapat tercapai secara optimal.

Kegiatan KKG yang lazim diadakan tiap hari Sabtu ternyata belum sesuai dengan harapan bagi sementara guru yang menganggap bahwa kegiatan KKG hanya merupakan serangkaian kegiatan klasik, dari "datang, duduk, dengar, makan, canda dan pulang" tanpa membawa hasil. Bahkan ada kecenderungan, para guru yang mengikuti KKG dilandasi rasa "terpaksa" lantaran "takut" dengan Kepala Sekolah atau Pengawas, bukan dilandasi motivasi yang tinggi akan pentingnya wawasan dan pengetahuan guna meningkatkan kompetensi.

Berdasarkan kerangka berpikir seperti di atas, maka persoalan dasar yang hendak dipecahkan melalui penelitian ini adalah: Bagaimana pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG) di Gugus Inti I Cabang Dinas P dan K Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal?

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui ruang lingkup kegiatan KKG, (2) memperoleh gambaran yang mendalam tentang proses pembelajaran dalam KKG sebagai upaya peningkatan kompetensi guru, (3) mengetahui gambaran kedisiplinan guru dalam mengikuti KKG, (4) memperoleh gambaran yang detail tentang kemampuan para tutor/pemandu KKG dalam menyampaikan materi, dan (5) memperoleh gambaran mengenai interaksi yang terjadi dalam pelaksanaan KKG.

Manfaat yang bisa dipetik dari pelaksanaan penelitian ini adalah: (1) manfaat teoretis, meliputi: diperoleh gambaran mengenai ruang lingkup kegiatan KKG, proses pembelajara, berbagai kondisi kultural-psikologis yang mendasari kedisiplinan guru, kemampuan tutor/pemandu dalam menyampaikan materi, dan interaksi yang terjadi dalam pelaksanaan KKG, (2) manfaat praktis, sebagai bahan masukan yang penting bagi penyelenggara pendidikan, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam upaya memecahkan masalah yang terjadi dalam pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG).

Landasan Teoretis

Fattah (2000:60-61), mengatakan bahwa kemampuan profesional guru (professional capacity) terdiri dari kemampuan intelegensi, sikap, dan prestasinya dalam bekerja. Dalam berbagai penelitian, kemampuan profesional guru sering ditunjukkan dengan tinggi rendahnya hasil pengukuran kemampuan menguasai materi pelajaran yang diajarkan. Secara sederhana, kemampuan profesional ini bisa ditunjukkan dengan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan tentang materi pelajaran yang diajarkan termasuk upaya untuk selalu memperkaya dan meremajakan pengetahuan tersebut. Salah satu upayanya, dapat melalui kegiatan dalam Kelompok Kerja Guru (KKG).

Keberadaan kegiatan KKG sebetulnya merupakan bagian yang integral dari perwujudan Sistem Pembinaan Profesional, yang didalamnya terdapat serangkaian kegiatan peningkatan mutu pendidikan, kemampuan profesional guru, mutu proses belajar mengajar serta hasil belajar dengan mendayagunakan segala sumber daya dan potensi yang dimiliki oleh sekolah, tenaga kependidikan dan masyarakat sekitarnya.

Depdikbud dalam bukunya Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah menyatakan KKG berfungsi: (1) menyusun kegiatan KKG satu tahun dibimbing pengawas, Tutor dan guru pemandu; (2) Menampung dan memecahkan masalah yang dihadapi guru dalam kegiatan belajar-mengajat melalui pertemuan, diskusi, contoh mengajar, demonstrasi penggunaan dan pembuatan alat peraga. Sedangkan tujuan dari KKG adalah membantu meningkatkan kemampuan guru secara profesional dalam melaksanakan tugasnya yaitu keberhasilan kegiatan belajar-mengajar (Depdikbud 1995/1996:17-21).

Secara esensial, kegiatan KKG mengarah ke penguasaan kompetensi yang harus di kuasai guru. Menurut Raka Joni (1980) kompetensi guru meliputi kompetensi profesional, personal dan kemasyarakatan.

Atas dasar rujukan kompetensi di atas, maka guru harus meyakini bahwa proses pembelajaran dalam KKG dapat bermanfaat untuk meningkatkan penguasaan kompetensi yang dimiliki. Dengan demikian, pelaksanaan KKG di tingkat gugus sekolah harus mampu memberikan peluang dan tantangan kepada guru terhadap penguasaan kompetensi.

Dalam terminologi umum, kedisiplinan guru dalam mengikuti KKG dapat merujuk pada kode etik guru yang merupakan pedoman guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan kode etik guru. Kedisiplinan yang diharapkan dalam kegiatan KKG sangat dekat dengan kode etik yang ke-6 yaitu guru secara mandiri dan/atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.

Kegiatan tutorial dilaksanakan berpijak pada gagasan pokok bagaimana caranya agar kegiatan KKG dapat berjalan secara terus menerus, tanpa menunggu pembinaan hirarkis dari "atas". Dalam kegiatan KKG, peran tutor sangat menentukan di dalam proses pembelajaran. Hal ini karena seorang tutor merupakan tenaga guru potensial yang bertugas secara penuh memberikan bantuan profesional kepada teman-teman sejawat (guru).

Dinamis tidaknya pelaksanaan KKG sudah barang tentu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Satu di antaranya adalah interaksi yang terjadi dalam pelaksanaan KKG, baik interaksi antara guru dengan guru peserta KKG, tutor dengan guru, dan tutor dengan tutor. Dalam konteks yang lebih aplikatif, tutor berperan sebagai "guru" sedangkan guru peserta KKG berperan sebagai "siswa".

Kegiatan KKG merupakan kegiatan yang sudah diprogramkan dari pembuat keputusan, dalam hal ini pemerintah. Secara kontekstual dapat dikatakan bahwa pemerintah mengharapkan kegiatan KKG harus dijalankan sebagai upaya peningkatan kompetensi guru. Karakteristik yang perlu dikembangkan di setiap daerah perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi sehingga kegiatan KKG dapat bermanfaat bagi guru, yakni munculnya perilaku inovatif dalam proses belajar-mengajar setelah mengikuti KKG.

Program luhur yang ditetapkan pemerintah kemudian disosialisasikan kepada Depdiknas untuk ditelaah lebih lanjut. Dalam konteks yang aplikatif, daerah sebagai penerima program perlu merealisasikan harapan pemerintah. Oleh karena itu, masing-masing daerah diharapkan menterjemahkan program sesuai dengan keadaan dan kondisi masing-masing, agar nantinya muncul perilaku yang inovatif dalam upaya peningkatan kompetensi guru.

Di tataran bawah, program kegiatan KKG dilaksanakan dengan membentuk Gugus Sekolah yang ada di setiap Kecamatan. Gugus Sekolah terdiri dari satu SD Inti dan beberapa SD lain yang berada di sekitarnya sebagai SD Imbas. Secara spesifik, tiap Gugus Sekolah perlu menyusun rencana kegiatan KKG dengan berpedoman pada petunjuk penyelenggaraan Gugus Sekolah yang dikeluarkan pemerintah. Sebagai titik kulminasi dalam kegiatan KKG diharapkan dapat meningkatkan kompetensi guru, baik kompetensi personal, professional, dan kemasyarakatan.

Indikator ketercapaian tujuan luhur dalam kegiatan KKG dapat dilihat dari lima hal, yakni (1) Implementasi kegiatan KKG, (2) proses pembelajaran KKG yang aktif, (3) intensitas kedisiplinan guru yang tinggi, (4) kegiatan tutorial yang bermedia, dan (5) terjadinya interaksi yang multi arah.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Artinya, permasalaan yang dibahas dalam penelitian ini tidak berkenaan dengan angka-angka dan bertujuan untuk menggambarkan serta menguraikan keadaan atau fenomena tentang pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG).

Penelitian ini dilaksanakan di Gugus Inti I Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal pada tahun pelajaran 2006/2007. Peneliti menentukan lokasi tersebut dengan pertimbangan Gugus Inti I merupakan gugus yang berada di jalur perkotaan namun pelaksanaan KKG terkesan belum optimal. Selebihnya Gugus Inti I merupakan sentral kegiatan dan aktivitas guru-guru se-Kecamatan Kaliwungu, khususnya di SD 01 Sarirejo.

Dalam penelitian ini ditentukan 4 orang subjek penelitian yang berhubungan dengan pelaksanaan KKG, yaitu seorang guru senior, seorang guru yunior (muda), seorang kepala sekolah, dan seorang guru yang bertugas sebagai pemandu/tutor dalam pelaksanaan KKG.

Pengumpulan data dilakukan berulang-ulang dalam beberapa tahap berdasarkan perkembangan yang muncul sehubungan dengan jawaban-jawaban atas suatu pertanyaan. Observasi dan wawancara merupakan dua teknik pengumpulan data yang digunakan sekaligus. Sedangkan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang beberapa hasil yang pernah dicapai guru dan situasi pelaksanaan KKG.

Keabsahan data merupakan persoalan yang cukup signifikan dalam penelitian kualitatif. Oleh karena itu, pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi (triangulation), pengecekan dengan teman sejawat (peer debriefing), analisis terhadap kasus-kasus negatif (negative case analysis), penggunaan referensi yang akurat (referential adequacy), pengecekan anggota (member cheking) dan keikutsertaan di lapangan dalam rentang waktu yang panjang (prolonged engagement).

Teknik analisa data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis hasil observasi, wawancara dan dokumentasi untuk meningkatkan pemahaman penelitian terhadap kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai teman bagi orang lain. Sedangkan untuk meningkatkan pemahaman tersebut, analisa perlu dilanjutkan dengan upaya mencari makna atau meaning (Muhadjir 1989:177). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis data dari Bogdan dan Biklen, yang kedua yaitu analisis data setelah pengumpulan data selesai. Hal tersebut peneliti pilih dengan alasan bahwa informasi yang diperoleh dari lapangan akan lebih lengkap, sehingga tidak perlu diuji kembali

Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Ruang Lingkup Kegiatan KKG

Secara substansi, program kegiatan KKG di Gugus Inti I, sudah sesuai dengan harapan guru. Program kegiatan sudah disusun menurut kelas dan tingkat permasalahan yang muncul di lapangan sesuai dengan bidang studi masing-masing. Oleh karena itu, di Gugus Inti I selain ada KKG untuk guru kelas (I-VI), juga ada KKG untuk guru Agama (KKGA) dan guru Olah Raga (KKGO).

Seorang Kepala Sekolah yang kebetulan menjadi Ketua Gugus Inti I, mengungkapkan bahwa penyusunan program kegiatan KKG dilakukan bersama-sama dengan pengurus KKG. Hal ini sesuai dengan anjuran dari pihak Depdiknas bahwa tiap-tiap Gugus Inti, perlu membuat proposal kegiatan tentang program kegiatan yang akan dilakukan Gugus Sekolah dalam satu tahun pelajaran.

"Kami sudah berusaha, melakukan penyusunan program kegiatan KKG sesuai dengan petunjuk dan kebutuhan guru. Namun demikian, saya juga merasakan terkadang kegiatan yang sudah kami susun tidak dapat terlaksana sesuai jadwal karena ada acara dinas mendadak atau ada kegiatan lain yang sifatnya insidental, sehingga pelaksanaan program tidak sesuai dengan rencana." (R-1).

Secara ideal, dalam sebuah program memang harus tepat waktu dalam penyelesaiannya sehingga tidak menghambat pencapaian program yang lain. Namun demikian, program kegiatan yang bersifat insidental (dari UNNES atau lainnya) sangat membantu guru dalam mengatasi kejenuhan pelaksanaan Kelompok Kerja Guru. Artinya, kebiasaan KKG yang monoton, dengan suasana pasif dan kurangnya kemampuan tutor dalam mengelola kelas, akan menjadi lain ketika suasana KKG berbeda dengan biasanya.

"Saya sangat senang, bila program KKG tidak monoton. Penyusunan program kegiatan KKG dengan menjalin kerja sama dengan lembaga lain yang berhubungan dengan pendidikan agaknya akan menambah semangat guru dalam KKG. Bahkan akan membuat suasana kejenuhan menjadi suasana kesegaran, karena yang menyampaikan materi tidak itu-itu saja" (R-3).

Perihal penyusunan program kegiatan tidak begitu penting bagi Bu Guru kelas satu ini. Selama ia bertugas menjadi guru kelas dan mengalami beberapa kali mutasi, ia beranggapan bahwa program kegiatan KKG adalah program yang disusun untuk membelajarkan guru. Dengan nada rendah, ia menjawab pertanyaan peneliti mengenai bagaimana penyusunan program KKG yang efektif:

"Kalau saya ya, Pak. KKG itu yang penting jalan. Tentang program kegiatan, itu sudah ada yang mengurus. Kami tinggal "manut" kebijakan pengurus Saya jadi guru sudah dua puluh lima tahun lebih, senangnya yang wajar-wajar saja. Tidak pernah "nggege mangsa", Pak!" (R-2).

Pernyataan subjek penelitian di atas mengenai penyusunan program KKG, ditanggapi oleh seorang Pengawas Sekolah yang rajin mengikuti jalannya KKG di beberapa Gugus Inti.

"Idealnya, semua guru di suatu Gugus Sekolah mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam KKG, sehingga tidak hanya mengikuti saja kebijakan pengurusnya. Masukan dan saran dari guru sangat penting dalam penyusunan program KKG, sehingga program yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan guru." (catatan lapangan).

2. Proses Pembelajaran dalam KKG

Dalam konteks yang aplikatif, guru harus mampu memaknai kegiatan KKG sebagai sebuah proses pembelajaran. Dalam pengertian dalam kegiatan KKG terjadi proses belajar, di mana terdapat "guru" dan "siswa". Guru diibaratkan adalah pemandu/tutor, sedangkan siswa diibaratkan guru lain yang menjadi pendengar dan pemerhati dalam kegiatan KKG.

"KKG sebenarnya sama dengan belajar. Guru-guru yang mengalami kesulitan dalam proses belajar-mengajar di kelas dapat dipecahkan dalam forum KKG. Yang sering dilaksanakan di Gugus Inti I, adalah kegiatan KKG secara umum. Hal ini karena permasalahan yang sering muncul merupakan hal yang bersifat umum. Selebihnya, permasalahan yang bersifat khusus, sering terabaikan." (R-1).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat, dibarengi dengan inovasi bidang kurikulum menjadikan kegiatan KKG sebagai suatu proses yang sepertinya "wajib" diikuti guru. Perubahan-perubahan mendasar bidang kurikulum dan berbagai kebijakan pemerintah sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah, menjadi wahana sosialisasi yang tepat melalui program KKG. Seorang guru senior, yang menjadi subjek penelitian kedua menanggapi positif adanya kegiatan KKG.

"Saya ini sudah tua, kalau tidak menambah ilmu melalui KKG kelihatannya otak saya sudah tidak mampu. Maklum sudah tua, tidak mampu melanjutkan studi karena anak-anak saya sudah kuliah. Ya, melalui KKG inilah satu-satunya jalan menambah ilmu." (R-2).

Suasana pasif memang terasa sekali dalam kegiatan KKG. Proses pembelajaran yang interaktif nyaris tidak pernah ada. Kegiatan monoton, dari "datang, duduk, dengar, canda, makan dan pulang" agaknya masih menghiasi suasana pertemuan dalam KKG yang dilaksanakan setiap hari Sabtu. Walaupun terkadang muncul pertanyaan dari guru dalam kegiatan KKG namun masih sebatas guru-guru yang boleh dikategorikan muda, di mana rasa ingin tahu dan semangatnya masih tinggi.

Sebagian besar, guru-guru yang sudah tua (berusia 45 tahun ke atas) hanya sebagai pendengar yang baik. Mereka memilih diam karena mereka menyadari bahwa sudah tidak mampu untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Ada semacam kecenderungan di hati mereka, bahwa guru-guru muda yang harus aktif dalam KKG. Seorang kepala sekolah yang peneliti tanya tentang kepasifan peserta KKG yang dari golongan tua menjawab:

"Biar yang muda-muda saja to, Mas. Saya kan sudah tua. Yang penting saya datang dan menjadi pendengar yang baik" (Catatan Lapangan).

Kepasifan proses pembelajaran dalam KKG, juga dirasakan oleh bu Guru yang tergolong masih muda ini. Menurutnya, KKG identik dengan belajar bersama secara kelompok. Kecenderungan suasana pasif dalam pelaksanaan KKG bisa diantisipasi dengan serangkaian kegiatan yang sifatnya bersama. Seperti, variasi pelaksanaan KKG dengan metode dan media pembelajaran.

"Barangkali salah satu cara mengajak ibu-ibu yang sudah "tua" agar aktif dalam KKG adalah mengikutsertakan mereka secara menyeluruh. Bernyanyi, barangkali akan berpengaruh positif kepada semangat guru dalam proses pembelajaran KKG" (R-3).

Agaknya proses belajar dalam kegiatan KKG di Gugus Inti I Cabang Dinas P dan K Kecamatan Kaliwungu, menjadi ajang berlatih dan mengasah diri. Seorang pemandu sangat menaruh perhatian yang tinggi dalam kegiatan KKG. Bahkan kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai pemandu mata pelajaran PPKn, membuatnya harus selalu belajar, baik melalui buku-buku pelajaran maupun media massa.

"Saya itu merasa belum cukup kemampuan untuk menjadi pemandu mata pelajaran PPKn. Walaupun saya sendiri sarjana PPKn, namun yang saya hadapi adalah guru-guru yang nota bene juga mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang lebih dibanding saya." (R-4).

3. Kedisiplinan Guru

Menurut pengamatan peneliti, jadwal dimulainya KKG belum dapat dilaksanakan tepat waktu. Namun demikian, ada hal menarik yang peneliti lihat selama proses kedatangan para guru dari SD Imbas. Mereka yang kebetulan mendapat tugas menyiapkan konsumsi pelaksanaan KKG, kerap kali datang lebih awal daripada guru lainnya. Hal ini karena, mereka harus menyiapkan dan mengemas makanan yang akan dijadikan konsumsi.

Hal yang lebih menarik lagi, adalah kedatangan para guru yang tidak pernah serempak atau mendekati bersama. Hasil pengamatan peneliti selama lima bulan, belum menunjukkan tingkat kedisiplinan tinggi dari para guru. Rata-rata para guru, hadir pukul 10.30 atau setengah jam lebih lambat dari jadwal yang ditetapkan. Ketika hal tersebut peneliti tanyakan kepada Kepala SD Inti, beliau menjawab:

"Beginilah, Pak. Saya kadang merasa tidak enak dengan Bapak Pengawas Sekolah. Biasanya dalam kegiatan tertentu kami mengundang Bapak PS, untuk mendampingi dalam pelaksanaan KKG. Namun, sering kali Pak PS-nya sudah datang, teman-teman guru belum datang." (R-1).

Seorang guru yang sudah lama mengajar dan kebetulan mengajar di SDN 01 Sarirejo yang merupakan SD Inti, menanggapi kedisiplinan dari sudut kebersaman dan kekeluargaan.

"Bagi saya, kedisiplinan adalah kebersamaan dan kekeluargaan. Percuma saja, kalau kedisiplinan waktu ditingkatkan sementara kegiatan tidak dapat berjalan" (R-2).

4. Kegiatan Tutorial

Menurut pengamatan peneliti yang ikut terjun dalam kegiatan KKG secara langsung, kegiatan tutorial yang ditandai penyampaian materi kepada peserta KKG belum menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Artinya, ada satu titik lemah bagi para pemandu yang dalam melaksanakan tugasnya cenderung monoton. Mereka datang dengan materi yang siap disajikan tanpa mengemas dengan variasi metode dan pemanfaatan media. Observasi peneliti, didukung oleh pendapat seorang guru yang masih tergolong yunior karena baru bertugas menjadi guru tujuh tahun yang lalu. Menjawab pertanyaan peneliti mengenai kualitas para pemandu, beliau menjawab:"Di Gugus Inti I sebenarnya sudah ada OHP, hanya jarang sekali dipakai, bahkan nyaris tidak pernah dimanfaatkan." (R-4).

Pernyataan dan harapan tersebut di atas, sepertinya memberi renungan tersendiri bagi peneliti yang kebetulan pernah menempuh studi yang berhubungan dengan media untuk memanfaatkan OHP. Waktu itu, materinya Bahasa Indonesia. Setengah jam sebelum dimulai, pemandu Bahasa Indonesia sudah datang dengan beberapa pengurus KKG langsung menuju ke ruang KKG.

Dalam hitungan jam yang saya pakai, mereka sudah lima belas menit mempersiapkan OHP yang akan digunakan untuk kegiatan KKG. Akan tetapi, belum juga berhasil. OHP sudah menyala, tetapi arah sinarnya tidak bisa mencapai layar. Berulang kali, mereka mencoba memasangkan transparan ke kaca OHP, namun sinar OHP tidak mampu menayangkan tulisan ke layar.

Karena mencapai kebuntuan dan peserta KKG sudah mulai berdatangan, menggerakkan hati peneliti untuk masuk ke ruangan dan ikut mengamati keberadaan OHP yang tidak mampu menampilkan tulisan ke layar. Perlahan-lahan saya mengamati OHP yang sudah menyala, itu berarti saluran listrik sudah benar. Setelah diminta bantuan untuk mengoperasikan OHP, saya menemukan permasalahan yang menyebabkan tulisan dalam OHP tidak bisa tampil dalam layar. Ternyata, mereka memasang tombol power berlawanan dengan arah layar. Layar berada di sebelah selatan, sedangkan tombol powernya berada di utara sehingga tulisan tidak bisa tertayang dalam layar. Dengan sisa-sisa tenaga, saya mencoba untuk menggeser letak OHP. Tombol power yang tadinya berada di sebelah utara sekarang berada di sebelah selatan, searah dengan layar. Seorang pemandu Bahasa Indonesia langsung menanggapi kejadian tersebut dengan sikap legawa dan intropeksi.

"Inilah salah satu kelemahan kami, bila OHP tidak pernah dimanfaatkan. Yang bisa memanfaatkan hanya mereka yang dulu pernah memakai" (Catatan Lapangan).

5. Interaksi dalam KKG

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan diperoleh keterangan bahwa interaksi pelaksanaan KKG di Gugus Inti I Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaliwungu berlangsung secara searah, dua arah/banyak arah. Interaksi searah kerap kali terjadi ketika para tutor hanya mengandalkan kemampuan penguasaan materi saja. Sedangkan interaksi dua arah/banyak arah, antara guru dengan guru peserta KKG, dan guru dengan tutor terjadi ketika ada permasalahan yang mengemuka namun belum ditemukan jawabannya secara pasti. Kondisi demikian juga mengharuskan ada interaksi antara tutor dengan tutor yang lain untuk memecahkan permasalahanm tersebut. Menjawab pertanyaan peneliti mengenai proses interaksi dalam pelaksanaan KKG, subjek penelitian ini menjawab: "Kalau interaksi dalam KKG di sini boleh dikatakan belum optimal. Bahkan sering tidak ada interaksi antara tutor dengan guru. Saya sendiri sebagai tutor kadang merasakan proses interaksi hanya berpusat pada tutor." (R-4).

Kekurangmampuan tutor dalam mengelola interaksi seperti dikatakan subjek penelitian di atas tergantung banyak hal. Setidaknya menurut subjek penelitian ini, interaksi dalam kegiatan KKG tergantung beberapa hal, di antaranya bagaimana seorang tutor mampu memberikan rangsangan kepada guru peserta KKG.

Ketika peneliti tanyakan kepada Ketua KKKS tentang interaksi pelaksanaan KKG, beliau membenarkan apa yang dikatatan subjek penelitian di atas. Menurutnya, dalam sebuah interaksi pasti terdapat dua kebutuhan yang saling melengkapi, yaitu rangsangan dan tanggapan. Semakin banyak rangsangan, sudah pasti akan banyak pula tanggapan yang muncul.

Proses interaksi yang menjadi bagian terpenting dalam pelaksanaan KKG, menjadikan pihak pengurus KKG diharapka mampu menyusun rencana kegiatan yang dapat mengefektifkan proses interaksi. Observasi yang peneliti lakukan, secara umum pelaksanaan KKG yang dilaksanakan secara klasikal (menyeluruh), proses interaksinya bermacam-macam, tergantung dari kemampuan tutor dalam mengelola proses pembelajaran. Jika tutor mampu mengelola proses pembelajaran, interaksinya berlangsung banyak arah, namun bila tutor hanya mengandalkan kemampuan akademisnya saja, interaksi berjalan secara dua arah. Menjawab kondisi tersebut, subjek penelitian yang juga sebagai Ketua Gugus Inti I, menjawab:

"Kami menyadari sepenuhnya bahwa proses interaksi di Gugus Inti I sini belum berjalan secara optimal. Hal ini karena tutor dan guru peserta KKG adalah teman sendiri"(R-1)

Pernyataan subjek penelitian di atas, langsung ditanggapi oleh seorang guru yang sudah lama mengajar dan berkecimpung dalam kegiatan KKG. Menurutnya, apa yang dikatakan Ketua Gugus Inti I benar adanya, perhatian guru dalam KKG kurang memberikan sumbangan yang nyata dalam interaksi. Ketika peneliti coba tanyakan kepada salah seorang peserta KKG yang dalam aktivitasnya cenderung acuh tak acuh terhadap pelaksanaan KKG, terutama kemampuan tutor, beliau menjawab:

"Saya memilih diam, karena apa yang disampaikan tutor tersebut sudah kadaluwarsa." (catatan lapangan).

Jika dikaitkan secara integratif, permasalahan yang ditelaah dalam pelaksanaan KKG ada kaitannya. Ibarat sebuah system, permasalahan tersebut saling melengkapi, dan muncul dari berbagai sudut kegiatan, yang muaranya pada kondisi objektif di lapangan. Secara argumentatif logis, bahwa pelaksanaan KKG di Gugus Inti I Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kaliwungu masih menimbulkan berbagai permasalahan yang krusial, baik permasalahan dalam penyusunan program, proses pembelajaran, kedisiplinan, kemampuan tutor dan interaksi dalam pelaksanaan KKG.

Secara analisis teori, pelaksanaan KKG di Gugus Inti I Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kaliwungu, juga masih menimbulkan berbagai fenomena permasalahan yang berhubungan dengan keoptimalan pencapaian tujuan pelaksanaan KKG, sebagai wahana mengembangkan kompetensi guru, baik kompetensi personal, profesional, dan kemasyarakatan.

Kesimpulan
1. Secara substansi, ruang lingkup kegiatan KKG di Gugus Inti I Cabang Dinas P dan K Kecamatan Kaliwungu, membahas proses belajar-mengajar yang dilakukan guru. Pada tataran formal, program kegiatan KKG sudah disusun secara sistematis, namun dalam implementasinya belum maksimal. Hal ini karena mekanisme penyusunan program KKG hanya dilakukan oleh pengurus Gugus Sekolah, tanpa melibatkan guru.
2. Secara umum, proses pembelajaran dalam KKG belum optimal, bahkan cenderung pasif karena dalam pelaksanaan KKG tidak ada sesuatu yang baru/inovatif.
3. Tingkat kedisiplinan guru dalam mengikuti KKG belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Sebagian besar, guru datang ke SD Inti lebih lambat dari jadwal dimulainya pelaksanaan KKG. Hal tersebut menyebabkan pelaksanaan KKG tidak dapat mencapai tujuan secara optimal.
4. Secara akademis, para pemandu KKG di Gugus Inti I Cabang Dinas P dan K Kaliwungu sudah mumpuni. Namun, secara aktivitas kemampuan para tutor dalam mengelola proses pembelajaran dalam KKG kurang kreatif dalam mengintegrasikan kemampuan yang dimiliki secara komprehensif. Hal tersebut ditandai adanya kepasifan peserta KKG, dan penampilan tutor ketika mempresentasikan materi kurang mampu mengemas dengan variasi metode dan media pembelajaran.
5. Secara umum, interaksi yang terjadi berlangsung searah, di mana tutor/pemandu (komunikator) menyampaikan informasi/pesan sedangkan guru sebagai peserta KKG (komunikan) menjadi penerima pesan, tanpa terjadi umpan balik secara integratif.
Saran
1. Penyusunan program kegiatan KKG, selain disesuaikan dengan kebutuhan guru dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga perlu dipikirkan terobosan-terobosan dan kerja sama dengan masyarakat, sejalan dengan peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah.
2. Adanya kecenderungan proses pembelajaran KKG yang pasif dan kurang menarik dapat ditempuh KKG dengan Sistem Gugus Terpadu secara berkala/insidental.
3. Pihak Gugus Sekolah perlu memikirkan upaya-upaya untuk mengaktifkan guru-guru dalam kegiatan KKG agar tepat waktu diantaranya dengan memberikan sertifikat KKG.
4. Para pemandu bidang studi/tutor dalam melakukan tugasnya perlu diimbangi dengan kemampuannya berkolaborasi dengan media dan metode pembelajaran.
5. Selain tutorial bermedia. proses interaksi dapat dioptimalkan dengan mengadakan evaluasi secara sistematis oleh Gugus Sekolah, yang kemudian berupaya untuk memperbaiki berbagai permasalahan yang ada dalam pelaksanaan KKG.

Kamis, 11 Maret 2010

Sistem Semester

Sistem perkuliahan didasarkan kepada prinsip-prinsip penawaran matakuliah. Prinsip ini memberikan kemungkinan kepada mahasiswa untuk menyusun program studinya sesuai dengan minat dan kemampuannya, yang terpenting bagi mahasiswa ialah pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) sesuai dengan program studi dan jumlah SKS yang ditempuhnya

Berdasarkan sistem perkuliahan dengan penawaran matakuliah maka setiap matalkuliah mempunyai kedudukan yang sama. Dalam hal pemilihan matakuliah oleh mahasiswa perlu memperhatikan kompetensi-kompetnesi yang akan diperolehnya

Program studi ditetapkan pada awal perkuliahan dengan bantuan/persetujuan penasehat Akademik (PA). Artinya mahasiswa dapat memilih matakuliah apa saja yang dapat membina dan menunjang program kuliahnya

Satu semester kuliah program pendidikan terdiri atas 16 minggu termasuk mid semester dan ujian semester. Mata kuliah yang berbobot 2 SKS dilaksanakan 200 menit seminggu dan dikuliahkan dalam 14 kali tatap muka masing-masing 100 menit selama satu semester, sisanya digunakan untuk mid semester dan ujian semester. Kuliah tatap muka sekurang-kurangnya harus diberikan 75% dari jumlah perkuliahan yang ditetapkan. Tenaga pengajar yang tidak dapat melaksanakan tugasnya dianggap mengecewakan. Hal ini dapat berakibat kepada kondite yang bersangkutan. Kehadiran mahasiswa harus secara teratur dalam kuliah tatap muka, seminar dan diskusi. Pelaksanaan tugas perkuliahan dan peraktikum menjadi persyaratan untuk dapat mengikuti ujian. Mahasiswa yang kehadirannya kurang dari 75% dan atau gagal dalam penyelesaian tugas-tugas yang dibebankan dosen terhadapnya tidak diperkenankan mengikuti ujian.

Supervisi pelaksanaan perkuliahan mencakup supervisi materi yang dikuliahkan dan frekuensi kehadiran tenaga pengajar, pelaksanaan supervisi perkuliahan berada dibawah tanggungjawab Pembantu bidang akademik dan dibantu oleh ketua jurusan untuk dilaporkan kepada Ketua STAI
Sehubungan dengan itu setiap tenaga pengajar diwajibkan membuat kontrak perkuliahan yang berbentuk COURSE DESAIN untuk setiap semester dan meyampaikan kepada mahasiswa paling lambat pada minggu pertma perkuliahan dimulai. Kontrak kuliah ini memungkinkan mahasiswa mengadakan antisipasi dan penyiapan diri, sehingga mereka memegang peranan aktif dalam program proses belajar mengajar.
Kehadiran tenaga pengajar dalam kontrak perkuliahan dicatat oleh mahasiswa dalam satu daftar yang disediakan. Untuk itu paling sedikit satu kali dalam satu bulan dikumpulkan oleh Kajur untuk bahan laporan kepada Ketua. Laporan kehadiran tenaga pengajar itu dimaksudkan untuk mengethaui frekwensi kehadiran, mengethaui ketepatan waktu, dan kebenaran tenaga pengajar melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Laporan supervisi perkuliahan dilaporan oleh PUKET I kepada Ketua untuk digunakan dalam penilaian kondite dan kompetensi akademik dosen tersebut sebagai untuk semester selanjutnya. Apabila tidak memenuhi ketentuan maka tidak dipakai lagi pada semester berikutnya.

Kurikulum

Kurikulum adalah seperangkat pengalaman belajar yang direncanakan. Ia mengandung perangkat lunak yang digunakan untuk belajar.Berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI No.122 Tahun 1988 kurikulum yang digunakan pelaksnaannya memakai Satuan semester dengan indikator sebagai berikut:

Kurikulum Yang berorintasi pada Kompetensi
Kompetnsi itu bersifat kognitif,afektif dan psikomotor (pengetahuan, pemahaman sikap dan nilai serta perbuatan yang menggambarkan jalinan ntara pengetahuan, sikap dan nilai serta keterampilan).
Pendekatan yang dilakukan pun adalah pendekatan komptensi yakni suatu keberhasilan pertanggungjawaban yang berarti isi dan cara penyampainaanya tidak hanya ditentukan oleh dosen saja. Ia ditetapkan oleh 3 pihak yaitu lembaga penghasil (termsuk dosen) kelompok profesional dan pemakai lulusan.

Pengalaman Belajar Mengajar
Pendekatan kompetensi dalam pengalaman belajar mengajar tersbut dapat digolongkan dalam tiga katagori yaitu pengalaman belajar diberikan secara teoritis yang bersipat ekspositorik maupun bersifat penemuan oleh mahasiswa (inqury) ,laithan-latihan terbatas untuk penguasaan keterampilan,serta latihan dan pengalaman kerja.

Jenis Program Studi
Untuk sementara program studi diberikan dalam bentuk paket-paket mata kuliah. Jurusan Pendidikan Agama Islam dan Tadris Bahasa Inggris diberikan Praktek Mengajar berupa PPL di SD,SMP/MTS,SMA/SMK/MA dan Jurusan ekonomi Islam berupa praktek lapangan diperbankan Islam.

Struktur Program
Pengalaman belajar yang dijadikan program studi itu dapat dikelompok ke dalam kurikulum inti dan kurikulum isntitusional. Kurikulum inti merupakan kelompok bahan kajian dan pengajaran yang harus dicakup dalam suatu program stusi yang dirumuskan dalam kurikulum yang berlaku secara nasional, dan kurikulum institusional merupakan sejumlah bahan kajian dan pengajaran yang merupakan bagian dari kurikulum pendidikan tinggi, terdiri atas tambahan dan kelompok ilmu dalam kurikulum inti yang disusun dengan memperhatikan keadaan dan kebutuhan lingkungan secara ciri khas perguruan tinggi yang bersangkutan.
Kurikulum inti dan institusional terdiri atas kelompok mata kulah pengembangan kepribadaian (MPK), Mata kuliah keilmuan dan keterampilan (MKK), Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB), Mata kuliah perilaku berkarya (MPB) dan Mata Kauliah berkehidupan bermasyarakat (MBB). MPK adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangkan manusia indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti yang luhur, berkepribadian mantap, dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan; MKK adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan menghasilkan tenaga ahli dengan kekaryaan berdasarkan dasar ilmu dan keterampilan tertentu; MKB ada kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan menghasilkan tenaga ahli dengan kekaryaan berdasarkan dasar ilmu dan keterampilan yang dikuasia; MBB adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang diperlukan seseorang untuk dapat memahami kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya.

Landasan Operasional

Pengembangan Kurikulum didasarkan pada:

Analisi tugas yaitu pengajaran dan non-Pengajaran di Kampus, kemasyarakatan, dan keprofesionalan

Kompetensi; yaitu kognitif, eksositori, penemuan latihan terbatas dan latihan lapangan, isi atau pokok bahasan dan taksiran waktu.

Integrasi isi, Metode, Teori dan Studi
Untuk pelaksanaan hal ini perlu tim perencanaan yang dapat menentukan kemampuan,pengalaman belajar, dan pokok bahasan secara bersama-sama. Jadi tidak secara terpisah-pisah; ada yang mengurus isi, metodologi dan sebagainya secara terpisah.

Sistem perkuliahan didasarkan kepada prinsip-prinsip penawaran matakuliah. Prinsip ini memberikan kemungkinan kepada mahasiswa untuk menyusun program studinya sesuai dengan minat dan kemampuannya, yang terpenting bagi mahasiswa ialah pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) sesuai dengan program studi dan jumlah SKS yang ditempuhnya

Berdasarkan sistem perkuliahan dengan penawaran matakuliah maka setiap matalkuliah mempunyai kedudukan yang sama. Dalam hal pemilihan matakuliah oleh mahasiswa perlu memperhatikan kompetensi-kompetnesi yang akan diperolehnya

Program studi ditetapkan pada awal perkuliahan dengan bantuan/persetujuan penasehat Akademik (PA). Artinya mahasiswa dapat memilih matakuliah apa saja yang dapat membina dan menunjang program kuliahnya

Satu semester kuliah program pendidikan terdiri atas 16 minggu termasuk mid semester dan ujian semester. Mata kuliah yang berbobot 2 SKS dilaksanakan 200 menit seminggu dan dikuliahkan dalam 14 kali tatap muka masing-masing 100 menit selama satu semester, sisanya digunakan untuk mid semester dan ujian semester. Kuliah tatap muka sekurang-kurangnya harus diberikan 75% dari jumlah perkuliahan yang ditetapkan. Tenaga pengajar yang tidak dapat melaksanakan tugasnya dianggap mengecewakan. Hal ini dapat berakibat kepada kondite yang bersangkutan. Kehadiran mahasiswa harus secara teratur dalam kuliah tatap muka, seminar dan diskusi. Pelaksanaan tugas perkuliahan dan peraktikum menjadi persyaratan untuk dapat mengikuti ujian. Mahasiswa yang kehadirannya kurang dari 75% dan atau gagal dalam penyelesaian tugas-tugas yang dibebankan dosen terhadapnya tidak diperkenankan mengikuti ujian.

Supervisi pelaksanaan perkuliahan mencakup supervisi materi yang dikuliahkan dan frekuensi kehadiran tenaga pengajar, pelaksanaan supervisi perkuliahan berada dibawah tanggungjawab Pembantu bidang akademik dan dibantu oleh ketua jurusan untuk dilaporkan kepada Ketua STAI
Sehubungan dengan itu setiap tenaga pengajar diwajibkan membuat kontrak perkuliahan yang berbentuk COURSE DESAIN untuk setiap semester dan meyampaikan kepada mahasiswa paling lambat pada minggu pertma perkuliahan dimulai. Kontrak kuliah ini memungkinkan mahasiswa mengadakan antisipasi dan penyiapan diri, sehingga mereka memegang peranan aktif dalam program proses belajar mengajar.
Kehadiran tenaga pengajar dalam kontrak perkuliahan dicatat oleh mahasiswa dalam satu daftar yang disediakan. Untuk itu paling sedikit satu kali dalam satu bulan dikumpulkan oleh Kajur untuk bahan laporan kepada Ketua. Laporan kehadiran tenaga pengajar itu dimaksudkan untuk mengethaui frekwensi kehadiran, mengethaui ketepatan waktu, dan kebenaran tenaga pengajar melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Laporan supervisi perkuliahan dilaporan oleh PUKET I kepada Ketua untuk digunakan dalam penilaian kondite dan kompetensi akademik dosen tersebut sebagai untuk semester selanjutnya. Apabila tidak memenuhi ketentuan maka tidak dipakai lagi pada semester berikutnya.

Kurikulum

Kurikulum adalah seperangkat pengalaman belajar yang direncanakan. Ia mengandung perangkat lunak yang digunakan untuk belajar.Berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI No.122 Tahun 1988 kurikulum yang digunakan pelaksnaannya memakai Satuan semester dengan indikator sebagai berikut:

Kurikulum Yang berorintasi pada Kompetensi
Kompetnsi itu bersifat kognitif,afektif dan psikomotor (pengetahuan, pemahaman sikap dan nilai serta perbuatan yang menggambarkan jalinan ntara pengetahuan, sikap dan nilai serta keterampilan).
Pendekatan yang dilakukan pun adalah pendekatan komptensi yakni suatu keberhasilan pertanggungjawaban yang berarti isi dan cara penyampainaanya tidak hanya ditentukan oleh dosen saja. Ia ditetapkan oleh 3 pihak yaitu lembaga penghasil (termsuk dosen) kelompok profesional dan pemakai lulusan.

Pengalaman Belajar Mengajar
Pendekatan kompetensi dalam pengalaman belajar mengajar tersbut dapat digolongkan dalam tiga katagori yaitu pengalaman belajar diberikan secara teoritis yang bersipat ekspositorik maupun bersifat penemuan oleh mahasiswa (inqury) ,laithan-latihan terbatas untuk penguasaan keterampilan,serta latihan dan pengalaman kerja.

Jenis Program Studi
Untuk sementara program studi diberikan dalam bentuk paket-paket mata kuliah. Jurusan Pendidikan Agama Islam dan Tadris Bahasa Inggris diberikan Praktek Mengajar berupa PPL di SD,SMP/MTS,SMA/SMK/MA dan Jurusan ekonomi Islam berupa praktek lapangan diperbankan Islam.

Struktur Program
Pengalaman belajar yang dijadikan program studi itu dapat dikelompok ke dalam kurikulum inti dan kurikulum isntitusional. Kurikulum inti merupakan kelompok bahan kajian dan pengajaran yang harus dicakup dalam suatu program stusi yang dirumuskan dalam kurikulum yang berlaku secara nasional, dan kurikulum institusional merupakan sejumlah bahan kajian dan pengajaran yang merupakan bagian dari kurikulum pendidikan tinggi, terdiri atas tambahan dan kelompok ilmu dalam kurikulum inti yang disusun dengan memperhatikan keadaan dan kebutuhan lingkungan secara ciri khas perguruan tinggi yang bersangkutan.
Kurikulum inti dan institusional terdiri atas kelompok mata kulah pengembangan kepribadaian (MPK), Mata kuliah keilmuan dan keterampilan (MKK), Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB), Mata kuliah perilaku berkarya (MPB) dan Mata Kauliah berkehidupan bermasyarakat (MBB). MPK adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangkan manusia indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti yang luhur, berkepribadian mantap, dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan; MKK adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan menghasilkan tenaga ahli dengan kekaryaan berdasarkan dasar ilmu dan keterampilan tertentu; MKB ada kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan menghasilkan tenaga ahli dengan kekaryaan berdasarkan dasar ilmu dan keterampilan yang dikuasia; MBB adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang diperlukan seseorang untuk dapat memahami kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya.

Landasan Operasional

Pengembangan Kurikulum didasarkan pada:

Analisi tugas yaitu pengajaran dan non-Pengajaran di Kampus, kemasyarakatan, dan keprofesionalan

Kompetensi; yaitu kognitif, eksositori, penemuan latihan terbatas dan latihan lapangan, isi atau pokok bahasan dan taksiran waktu.

Integrasi isi, Metode, Teori dan Studi
Untuk pelaksanaan hal ini perlu tim perencanaan yang dapat menentukan kemampuan,pengalaman belajar, dan pokok bahasan secara bersama-sama. Jadi tidak secara terpisah-pisah; ada yang mengurus isi, metodologi dan sebagainya secara terpisah.

SISTEM PENDIDIKAN

Agenda pembangunan pendidikan suatu bangsa tidak akan pernah berhenti dan selesai. Ibarat patah tumbuh hilang berganti, selesai memecahkan suatu masalah, muncul masalah lain yang kadang tidak kalah rumitnya. Begitu pula hasil dari sebuah strategi pemecahan masalah pendidikan yang ada, tidak jarang justru mengundang masalah baru yang jauh lebih rumit dari masalah awal. Itulah sebabnya pembangunan bidang pendidikan tidak akan pernah ada batasnya. Selama manusia ada, persoalan pendidikan tidak akan pernah hilang dari wacana suatu bangsa. Oleh karena itu, agenda pembangunan sektor pendidikan selalu ada dan berkembang sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat suatu bangsa. Bangsa
Indonesia tidak pernah berhenti membangun sektor pendidikan dengan maksud agar kualitas sumber daya manusia yang dimiliki mampu bersaing secara global. Jika demikian halnya, persoalan unggulan kompetitif bagi lulusan suatu institusi pendidikan sangat perlu untuk dikaji dan diperjuangkan ketercapaiannya dalam proses belajar mengajar oleh semua lembaga pendidikan di negeri ini agar lembaga pendidikan yang bersangkutan mampu menegakkan akuntabilitas kepada lingkungannya. Untuk dapat melakukan hal-hal yang demikian, lembaga pendidikan perlu melakukan berbagai upaya ke arah peningkatan kualitas secara berkesinambungan. Tanpa ada peningkatan kualitas secara berkesinambungan, pembangunan pendidikan akan terjebak pada upaya sesaat dan hanya bersifat tambal sulam yang reaktif. Upaya yang demikian itu tidak akan mampu memecahkan persoalan pendidikan yang sedang dan akan kita hadapi pada era milenium III ini. Sebaliknya, agar sektor pendidikan mampu mendorong semua proses pemberdayaan bangsa, ia harus direncanakan dan diprogramkan secara sistematis dan proaktif. Untuk dapat melakukan hal ini, kita perlu melakukan upaya-upaya yang bersifat reflektif dan reformatif. Upaya yang bersifat reflektif perlu dilakukan agar kita tidak mengulang hal-hal yang keliru di masa lampau. Bukan itu saja, dengan upaya yang bersifat reflektif, akhirnya kita akan mampu memberi makna suatu program dan proses pendidikan secara lebih kontekstual. Dengan cara seperti itu, pada akhirnya institusi pendidikan dapat membumikan programnya untuk memberdayakan peserta didik. Bukan sebaliknya, peserta didik yang justru harus dikendalikan agar cocok dan sesuai dengan program serta proses yang telah ada di suatu institusi pendidikan. Kalau hal seperti itu sampai terjadi, pada akhirnya pendidikan akan terjebak pada kegiatan-kegiatan yang bersifat drilling. Kegiatan belajar yang demikian tidak akan mampu menolong peserta didik untuk mencari jati dirinya secara lebih mandiri. Akhirnya, peserta didik tidak akan mampu mengembangkan kemampuan imajinatif yang bermanfaat untuk menumbuhkan kreativitas yang inovatif. Upaya yang bersifat reformatif dalam proses pendidikan juga sangat diperlukan agar pendidikan kita tidak berjalan di tempat. Tujuan utama melakukan upaya yang bersifat reformatif dalam sektor pendidikan ialah untuk melakukan rekonstruksi sosial ke arah bentuk masyarakat madani ideal seperti yang dicita-citakan. Dengan upaya yang reformatif, semua praksis pendidikan yang bertentangan dengan proses demokratisasi kehidupan yang sehat, adil, dan berharkat, perlu disingkirkan. Dengan paradigma yang demikian itu, rekonstruksi sosial akan mampu membangun masyarakat menjadi masyarakat madani yang penuh dengan praktik-praktik kehidupan atas dasar kasih sayang antara sesama warga masyarakat secara egaliter. Makalah ini disusun untuk tujuan ikut serta memberikan bahan dan informasi kepada semua pihak yang memiliki komitmen terhadap pendidikan. Sudah tentu informasi yang tercakup dalam makalah ini bukanlah segala-galanya, komprehensif, serta mampu mewakili semua praksis kebijakan, dan pengembangan sektor pendidikan Dengan demikian, aspek-aspek penting dalam pendidikan yang akan mendapat sorotan dalam tulisan ini ialah kurikulum, siswa, guru, proses pembelajaran, dan partisipasi masyarakat.

System perbankan di indosesia

sistem perbankan itu ada tiga. Dikatakan secara luas sistem perbankan, hemat kita mensahkan logis vertical ke bawah mencakup di Indonesia. Iya hiruk pikuk dan desis suara bahkan mata manatap megah bangunan kantor cabang BCA sebagai faktanya. Dual banking system mempunayi inti pengawasan, pembinaan serta perizinan lebih dari satu instansi. Ini berarti untuk berdiri maupun beroperasi sebuah bank mesti memperhatikan dan memenuhi standar lebih dari satu pengawas. Jelasnya dual banking system dipeluk mesra bank Jabar yang merupakan bank pembangunan daerah jawa barat. Beralih dari dual banking system, sistem perbankan tunggal berinti bank hanya memiliki satu kantor saja untuk melayani dan memenuhi kebutuhan maupun keinginan nasabah di suatu wilayah tertentu. Lantas merger dan take over pun bergemuruh dalam pembicaraan menyebabkan sistem perbankan bercabang masuk pada tahap peningkatan kuantitas dalam keberadaannya. Intinya sistem perbankan bercabang membolehkan bank mempunyai lebih dari satu kantor di suatu wilayah. Kantor cabang bank adalah unit usaha dari suatu bank yang organisasi, financial, pemilikan dan kepengurusannya menjadi bagian tak terpecahkan dari kantor pusat. Kantor cabang secara langsung bertanggung jawab kepada kantor pusat. Dan kantor cabang di suatu wilayah dipengaruhi oleh luas geografis bersama potensi pasar. Dengan demikian adalah tidak berlebihan kehadiran kantor cabang merupakan wujud sistem perbankan bercabang, tanpa kantor cabang berarti sistem perbankan tunggal.

Rabu, 10 Maret 2010

ANALISIS SISTEM


ANALISIS SISTEM

Suatu sistem akan dirancang oleh satu orang atau sekelompok orang
yang membentuk tim. Orang yang merancang sistem ini disebut
Sistem Analis.
Ada yang mendefinisikan Sistem Analis sebagai :
Seorang yang menggunakan pengetahuan aplikasi komputer yang
dimilikinya untuk memecahkan masalah-masalah bisnis, dibawah
petunjuk Manajer Sistem.
Seorang yang bertanggung jawab menterjemahkan kebutuhankebutuhan
si pemakai sistem (user) ke dalam spesifikasi teknik
yang diperlukan oleh Programmer dan diawasi oleh Manajemen.

FUNGSI ANALIS SISTEM
Fungsi Analisis Sistem adalah
1.Mengidentifikasikan masalah-masalah dari user
2.Menyatakan secara spesifik sasaran yang harus dicapai untuk
memenuhi kebutuhan user
3.Memeilih alternatif-alternatif metode pemecahan masalah
4.Merencanakan dan menerapkan rancangan sistemnya sesuai
dengan permintaan user

Alasan pentingnya mengawali analisis sistem:

1.      Problem-solving: sistem lama tidak berfungsi sesuai dengan kebutuhan. Untuk itu analisis diperlukan untuk memperbaiki sistem sehingga dapat berfungsi sesuai dengan kebutuhan.
2.      Kebutuhan baru: adanya kebutuhan baru dalam organisasi atau lingkungan sehingga diperlukan adanya modifikasi atau tambahan sistem informasi untuk mendukung organisasi.
3.      Mengimplementasikan ide atau teknologi baru.
4.      Meningkatkan performansi sistem secara keseluruhan.



Batasan analisis sistem:
Aktifitas yang dilakukan dalam analisis sistem harus dapat menjawab pertanyaan umum, sbb:
1.      Sistem baru apakah yang akan dibangun? atau
2.      Sistem apakah yang akan ditambahkan atau dimodifikasi pada sistem lama yang sudah ada?

Untuk itu secara detail harus dijawab pertanyaan-pertanyaan:
1.      Informasi apakah yang dibutuhkan?
2.      Oleh siapa?
3.      Kapan?
4.      Dimana?
5.      Dalam bentuk apa?
6.      Bagaimana cara memperolehnya?
7.      Dari mana asalnya?
8.      Bagaimana cara mengumpulkannya?

Proposal mengadakan analisis sistem:
Berisi:
1.      Definisi yang jelas dan konsisten tentang alasan untuk analisis
2.      Definisi batasan analisis yang akan dilakukan
3.      Identifikasi fakta yang akan dikumpulkan dan dipelajari selama analisis
4.      Identifikasi sumber dimana fakta dapat diperoleh
5.      Uraian tujuan dan kendala yang mungkin dalam analisis
6.      Proyeksi kemungkinan masalah yang akan terjadi selama analisis
7.      Jadwal tentatif analisis


Sumber-sumber fakta yang dapat dipelajari untuk analisis sistem:
1.      Sistem yang ada
2.      Sumber internal lain: orang, dokumen, dan hubungan antara orang-organisasi atau fungsi ada
3.      Sumber External: interface dengan sistem lain, seminar, vendor, jurnal, textbook dan informasi atau ilmu lain yang berada diluar sistem

Kerangka Analisis:
1.      Analisis terhadap level pembuat keputusan (manajemen organisasi): menganalisa organisasi, fungsi dan informasi yang dibutuhkan beserta informasi yang dihasilkan.
2.      Analisis terhadap flow informasi: mengidentifikasi informasi apa yang diperlukan, siapa yang memerlukan, dari mana asalnya.
3.      Analisis terhadap input dan output.
Dalam analisis ini digunakan teknik dan alat bantu, a.l: interview, questionaire, observation, sampling and document gathering, charting (organisasi, flow, dfd, ER, OO, dll), decision table and matric

Laporan hasil analisis:
Laporan hasil analisis harus berisi:
1.      Uraian alasan dan scope (batasan) analisis
2.      Deskripsi sistem yang ada dan operasinya.
3.      Uraian tujuan (objektif) dan kendala sistem
4.      Deskripsi tentang masalah-masalah yang belum teratasi dan potensi masalah
5.      Uraian tentang asumsi-asumsi yang diambil oleh analis sistem selama proses analisis
6.      Rekomendasi-rekomendasi sistem yang baru dan kebutuhannya untuk desain awal
7.      Proyeksi kebutuhan sumber daya dan biaya yang diharapkan termasuk dalam desain sistem baru atau memodifikasinya.
Katagori aspek kelayakan:
1.      Kelayakan teknis: kelayakan perangkat keras dan perangkat lunak.
2.      Kelayakan ekonomi: apakah ada keuntungan atau kerugian, efisiensi biasa operasional organisasi.
3.      Kelayakan operasi: berhubungan dengan prosedur operasi dan orang yang menjalankan organisasi
4.      Kelayakan jadwal: dapat menggunakan model-model penjadwalan seperti PERT dan GANTT CHART. Apakah jadwal pengembangan layak atau tidak.

Hasil akhir analisis sistem (keputusan):
1.      Hentikan pekerjaan, karena proposal tidak layak.
2.      Tunggu beberapa saat, karena masih ada pertimbangan lain.
3.      Modifikasi, manajemen memutuskan untuk memodifikasi prososal dengan subsistem lain.
4.      Proses dengan syarat, ada persyaratan kelayakan.
5.      Proses tanpa syarat, semua syarat terpenuhi. Proposal diterima dan proses dilanjutkan ke desain awal.

PERANCANG SISTEM

Analisis sistem digunakan untuk menjawab pertanyaan what? Sedangkan desain digunakan untuk menjawab pertanyaan how? Desain berkonsentrasi pada bagaimana system dibangun untuk memenuhi kebutuhan pada fase analisis.

Elemen-elemen pengetahuan yang berhubungan dengan proses desain:
1.      Sumber daya organisasi: bertumpu pada 5 unsur organisasi, yaitu: man, machines, material, money dan methods.
2.      Informasi kebutuhan dari pemakai: informasi yang diperoleh dari pemakai selama fase analisis sistem.
3.      Kebutuhan sistem: hasil dari analisis sistem.
4.      Metode pemrosesan data, apakah: manual, elektromechanical, puched card, atau computer base.
5.      Operasi data. Ada beberapa operasi dasar data, a.l: capture, classify, arrange, summarize, calculate, store, retrieve, reproduce dan disseminate.
6.      Alat bantu desain, seperti: dfd, dcd, dd, decision table dll.

Langkah dasar dalam proses desain:
1.      Mendefinisikan tujuan sistem (defining system goal), tidak hanya berdasarkan informasi pemakai, akan tetapi juga berupa telaah dari abstraksi dan karakteristik keseluruhan kebutuhan informasi sistem.
2.      Membangun sebuah model konseptual (develop a conceptual model), berupa gambaran sistem secara keseluruhan yang menggambarkan satuan fungsional sebagai unit sistem.
3.      Menerapkan kendala2 organisasi (applying organizational contraints). Menerapkan kendala-kendala sistem untuk memperoleh sistem yang paling optimal. Elemen organisasi merupakan kendala, sedangkan fungsi-fungsi yang harus dioptimalkan adalah: performance, reliability, cost, instalation schedule, maintenability, flexibility, grouwth potensial, life expectancy. Model untuk sistem optimal dapat digambarkan sebagai sebuah model yang mengandung: kebutuhan sistem dan sumber daya organisasi sebagai input; faktor bobot terdiri atas fungsi-fungsi optimal di atas; dan total nilai yang harus dioptimalkan dari faktor bobot tersebut.
4.      Mendefinisikan aktifitas pemrosesan data (defining data processing activities).
Pendefinisian ini dapat dilakukan dengan pendekatan input-proses-output. Untuk menentukan hal ini diperlukan proses iteratif sbb:
a.       Mengidentifikasn output terpenting untuk mendukung/mencapai tujuan sistem (system’s goal)
b.      Me-list field spesifik informasi yang diperlukan untuk menyediakan output tersebut
c.       Mengidentifikasi input data spesifikik yang diperlukan untuk membangun field informasi yang diperlukan.
d.      Mendeskripsikan operasi pemrosesan data yang diterapkan untuk mengolah input menjadi output yang diperlukan.
e.       Mengidentifikasi elemen input yang menjadi masukan dan bagian yang disimpan selama pemrosesan input menjadi output.
f.       Ulangi langkah a-e terus menerus samapi semua output yang dibutuhkan diperoleh.
g.      Bangun basis data yang akan mendukung efektifitas sistem untuk memenuhi kebutuhan sistem, cara pemrosesan data dan karakteristik data.
h.      Berdasarakan kendala-kendala pembangunan sistem, prioritas pendukung, estimasi cost pembangunan; kurangi input, output dan pemrosesan yang ekstrim
i.        Definisikan berbagai titik kontrol untuk mengatur aktifitas pemrosesan data yang menentukan kualitas umum pemrosesan data.
j.        Selesaikan format input dan output yang terbaik untuk desain sistem.

5.      Menyiapkan proposal sistem desain. Proposal ini diperlukan untuk manajemen apakah proses selanjutnya layak untuk dilanjutkan atau tidak. Hal-hal yang perlu disiapkan dalam penyusunan proposal ini adalah:
a.       Menyatakan ulang tentang alasan untuk mengawali kerja sistem termasuk tujuan/objektif khusus dan yang berhubungan dengan kebutuhan user dan desain sistem.
b.      Menyiapkan  model yang sederhana akan tetapi menyeluruh sistem yang akan diajukan.
c.       Menampilkan semua sumber daya yang tersedia untuk mengimplementasikan dan merawat sistem.
d.      Mengidentifikasi asumsi kritis dan masalah yang belum teratasi yang mungkin berpengaruh terhadap desain sistem akhir.
Sedangkan format dari proposal desain ini sangat berfariasi akan tetapi mengandung hal-hal di atas.



Blogger Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by ArchitecturesDesign.Com Beautiful Architecture Homes